Skip to main content

My New Cat

Hai namaku kevin. Pernahkah kalian merasakan bahwa seolah olah kalian tidak sendirian, atau ada seseorang yang mengawasi kalian?? Yaa, aku selalu memiliki perasaan seperti itu sepanjang waktu. 1

Perasaan yang kadang membuatku merasa tak nyaman bahkan dirumahku sendiri. Aku menceritakan itu kepada sahabatku nicko dan dia menyarankan agar aku memelihara seekor kucing dirumahku. Dia mengatakan kepadaku bahwa jika aku memelihara seekor kucing, mereka bisa menangkal roh roh jahat.
Jadi, secara alami, aku menuruti apa kata nicko. Dan akhirnya.. aku memutuskan untuk memelihara seekor kucing, terutama untuk mengurangi perasaan yang tidak nyamanku saat aku berada di rumah sendirian.
Kucingku kuberi nama catt. Tetapi saat memelihara catt, perasaan aneh semakin menyelimuti diriku. Kucingku itu selalu menatapku dimanapun aku berada. Catt akan selalu menatapku, tanpa melepaskan pandangannya dariku.

Saat aku menonton TV dia menatapku, saat aku duduk di sofa dia menatapku, saat aku membuat mie instanpun dia tak pernah melepaskan pandangannya sedikitpun dariku. Sampai suatu hari, aku menyadari sesuatu.

Ternyata catt tidak pernah menatapku, catt tidak pernah sekalipun sebenarnya menatapku. Dia sedang menatap sesuatu yang ada di belakangku, dan aku mencoba memberanikan diri menoleh kebelakang dan.......
"TOLONGGGGG!!!!!!!!!" kataku menjerit

Comments

Popular posts from this blog

The Expressionless

Pada bulan Juni 1972, Seorang Perempuan muncul dirumah sakit "Cedar Senai". Perempuan itu memakai gaun putih. Gaun putih itu menutupi darah yang ada di badan perempuan tersebut. Perempuan itu muncul di rumah sakit dan orang-orang sekitar memperhatikan keanehan perempuan tersebut. Sampai-sampai orang yang memperhatikannya dapat muntah dan merasa tidak enak badan. Yang pertama dipertanyakan adalah, apakah ia benar-benar seorang manusia? Tubuh dan Mukanya lebih mirip mendekati seperti mannequin (manekin atau sesosok patung menyerupai manusia, baik dari segi bentuk badan, kaki, tangan, kepala, bahkan wajahnya bisa diserupai dengan wajah manusia aslinya) tetapi memiliki ketangkasan dan fluiditas manusia normal. Wajahnya sesempurna manekin, tanpa alis dan dioleskan make-up. Ada anak kucing dijepit di rahangnya sehingga tidak ada gigi yang bisa dilihat. Darah masih menyemprot di atas gaunnya ke lantai. Dokter kemudian menarik kucing itu keluar dari mulutnya, kemudia melemparny...

Luka

Darah di dinding. Di pahaku, bajuku, lalu lantai, di dalam bak mandi, juga di wajahku, dan di rambutku. Di mana-mana. Menatap nanar kedua tangan yang berlumuran darah, aku lalu mengusap wajah menggunakan tanganku yang lengket dan berbau besi ini. Meski gemetaran, aku selalu merasa ini semua belum cukup. Kemudian aku meraba-raba lantai, mengambil cutter yang belum lama aku letakan. Mengangkat bagian bawah baju untuk kumasukkan ke dalam mulut sendiri. Lantas cutter itu mulai aku gunakan kembali. Menyayat. Menciptakan garis luka lebih panjang lagi di tangan kiri. Di bagian dalam lenganku. "E-emmh! Nggh!" Mengerang, merintih sendirian. Sobekan pada luka itu terasa amat memilukan. Perih. Dan tangan kiriku terjatuh lemas begitu saja. Padahal aku pernah mendapatkan luka yang lebih parah dari ini. Kenapa kali ini aku begitu lemah? Tak Cutter yang kupegang terlepas. Luka yang baru saja kubuat aku remas, membiarkan darahnya mengalir lebih banyak lagi. Karena semakin banyak darah ...

BORRASCA - Bagian 5 - Chapter 3 (English)

I didn’t remember dreaming but I knew I had. I woke up feeling like I’d run thirty miles; drenched in sweat and fighting to draw in air with raw, ragged breaths. I sat up on the couch and rubbed my face. What time was it? Why was I in the living room? Why did I feel a malicious black cloud looming over me like some sort of comic strip character? And then it all came back, crashing like waves over my head. Holy shit, Kimber was here. And she wanted something. I felt the fear shower me like ice cold rain as I recalled pieces of the night before. We were going back. Kimber’s bag was next to the door and she was sitting at the table reading one of Seth’s look-how-smart-I-am philosophy books. As I sat up I slid the evidence of my addiction under the couch with my foot, praying she hadn’t already seen it. “Morning, Sam,” Kimber smiled, without looking up from the book. “Why in the fuck are you so chipper. You remember where we’re going right?” “Yes.” She put the book down and looked ...