Skip to main content

The Clawfoot Bathtub

http://www.horrorcreepypastariddleindonesia.ga
http://www.horrorcreepypastariddleindonesia.ga

Sejak orang tuanya membeli bath up bercakar, Janey merasa hidupnya tidak tenteram saat ia pergi ke toilet. Ayahnya berkata bahwa bath up itu merupakan barang Viktoria kuno, tetapi ia curiga ayahnya mendapatkan benda itu dari sebuah toko barang antik, seperti semua barang yang mereka gunakan di rumah. Ayahnya tidak dapat menolak potongan harga.

Sesuatu tentang bath up antik itu mengganggu Janey. Mungkin karena barang itu suram dan porselinnya bernoda merah kecokelatan. Mungkin juga karena kaki-kakinya menampakkan bentuk yang aneh. Mereka seperti cakar tajam dari beberapa binatang buas yang besar. Terkadang, ia membayangkan bath up itu tiba-tiba berdiri dan hidup saat punggung Janey membelakanginya.

Janey sudah berumur 13 tahun, tetapi ibunya masih memperlakukannya seperti seorang anak kecil. Ibunya masih sering mengingatkannya kapan waktunya bangun tidur, kapan mengerjakan PR, kapan ia dapat menonton televisi, dan kapan ia harus tidur.

Orang tuanya kerap terlihat berdebat tentang apa pun. Bahkan sesuatu yang sepele akan menimbulkan pertengkaran sampai beberapa jam lamanya. Ia tidak dapat mengingat kapan mereka berdamai dan tenang di dalam rumah. Sepanjang hari, ibu dan ayahnya akan berbicara keras satu sama lain untuk menyampaikan bermacam argumen.

Seringnya saat malam hari, saat kedua orang tuanya saling berteriak dan menjerit, Janey akan menutupi kepalanya dengan bantal untuk meredam keributan dan menangis sendiri sampai jatuh tertidur. Dengan segala kekacauan di rumah, gadis muda itu kadangkala merasa kehilangan akal sehatnya.

Akhirnya, ia mulai ragu-ragu terhadap kesehatan jiwanya. Setiap hari saat ia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan menggosok gigi, ia akan melihat sesuatu dari sudut matanya. Dari pantulan cermin, ia bisa melihat kaki-kaki bath up di belakangnya.

Suatu kali, ia berpikir ia melihat darah mengalir keluar dari keran. Tetapi saat ia berbalik untuk melihat, keran tersebut tidak mengalir. Dalam kesempatan lain, ia berkhayal melihat sesuatu yang gelap melingkupi bak mandi. Ia baru saja akan mengintip, tetapi saat ia akan berputar dengan jantung yang berdebar ketakutan, kaki-kaki bath up terlihat baik-baik saja.

Kapanpun Janey melepas pakaian dan berjalan ke bak mandi untuk membersihkan diri, ia merasakan sensasi aneh bahwa seseorang sedang mengawasinya. Bulu kuduk di belakang lehernya berdiri dan ia merasa seseorang sedang melihat tubuhnya yang telanjang.

Suatu malam saat Janey mandi, ia menjatuhkan sabunnya. Saat ia membungkuk untuk mengambil sabun itu dari dasar bak, ia kehilangan keseimbangan dan jatuh ke belakang. Tiba-tiba, ia merasa ada tangan yang memeluknya dan menahannya di bawah air.

Gadis yang ketakutan itu memukul dan meronta. Akhirnya, ia bisa membebaskan dirinya dari cengkeraman tak terlihat yang mencengkeram kulitnya dengan kuat. Dengan napas terengah-engah dan tubuh gemetar, ia merasa mendengar suara tawa di sekitar kamar mandi yang kecil.

Pagi harinya, Janey memutuskan untuk mengunjungi toko barang antik dimana ayahnya membeli bath up kuno. Saat ia bertanya kepada pemilik toko tentang bath up kuno yang telah ia jual beberapa hari sebelumnya, ia terkejut dengan cerita menakutkan si pemilik toko.

Rupanya, bath up bercakar itu berasal dari era Viktoria. Pemilik toko berkata bahwa bath up itu suatu kali pernah dimiliki oleh seorang pembunuh berantai tak terkenal yang bernama George Haigh. Rahang Janey bergetar dan ia mulai gemetar ketakutan.

Lelaki pemilik toko berkata bahwa pembunuh berantai itu memikat gadis muda untuk ke rumahnya dan menyiapkan kamar mandi untuk mereka. Kemudian, saat mereka mandi, ia akan mengintai mereka melalui sebuah lubang yang telah di-bor di dinding. Saat mereka akhirnya menyadari telah diintip, ia akan menerkam mereka dan menahan kepala mereka di bawah air sampai mereka tenggelam.

Pembunuh kejam itu kemudian memotong tubuh mereka dengan sebuah kapak dan membuang potongan-potongannya ke tempat sampah. Setelah beberapa gadis muda dilaporkan hilang di wilayah itu, perbuatan buruk pembunuh berantai itu dihentikan.

Seorang tetangga sedang mengintai melewati tong sampah milik si pembunuh berantai saat ia melihat sisa-sisa potongan mengerikan dari tubuh manusia. Ia kemudian menelepon polisi. Mereka menangkap pembunuh berantai itu dan membawanya ke dalam pemeriksaan pengadilan. Ia terbukti bersalah dan dieksekusi dengan cara digantung.

Janey merasa sangat ketakutan. Ia menyadari bahwa ia harus meyakinkan orang tuanya untuk membuang bath up bercakar itu sebelum sesuatu yang mengerikan terjadi. Gadis muda itu berlari kembali ke rumah secepat kakinya bisa membawanya. Saat ia sampai di rumah, ia menemukan ayahnya duduk sendirian di ruang tamu. Televisi mati dan rumah terasa sangat sunyi.

"Dimana Ibu?" tanya Janey.

"Dia di atas, sedang mandi," kata ayahnya. "Aku akan pergi memeriksanya."

Janey duduk di sofa, sedangkan ayahnya pergi ke lantai atas. Rumah terlihat sangat tenang, hal itu menggelisahkannya. Ia tidak tahan lagi dengan keheningan yang sangat menakutkan ini. Tiba-tiba, ia mendengar serangkaian suara benda tajam yang berdebam diikuti oleh suara langkah kaki yang pelan dan hati-hati sedang menuruni tangga.

Ayahnya muncul di depan pintu ruang tamu. Matanya berkabut dan ia menampakkan ekspresi aneh pada wajahnya. Kemudian, ia melihat ayahnya membawa kapak berdarah.

"Ibumu sudah selesai," ayahnya menggeram. "Sekarang, giliranmu untuk mandi."

Comments

Popular posts from this blog

The Expressionless

Pada bulan Juni 1972, Seorang Perempuan muncul dirumah sakit "Cedar Senai". Perempuan itu memakai gaun putih. Gaun putih itu menutupi darah yang ada di badan perempuan tersebut. Perempuan itu muncul di rumah sakit dan orang-orang sekitar memperhatikan keanehan perempuan tersebut. Sampai-sampai orang yang memperhatikannya dapat muntah dan merasa tidak enak badan. Yang pertama dipertanyakan adalah, apakah ia benar-benar seorang manusia? Tubuh dan Mukanya lebih mirip mendekati seperti mannequin (manekin atau sesosok patung menyerupai manusia, baik dari segi bentuk badan, kaki, tangan, kepala, bahkan wajahnya bisa diserupai dengan wajah manusia aslinya) tetapi memiliki ketangkasan dan fluiditas manusia normal. Wajahnya sesempurna manekin, tanpa alis dan dioleskan make-up. Ada anak kucing dijepit di rahangnya sehingga tidak ada gigi yang bisa dilihat. Darah masih menyemprot di atas gaunnya ke lantai. Dokter kemudian menarik kucing itu keluar dari mulutnya, kemudia melemparny...

BORRASCA - Bagian 5 - Chapter 7 (English)

I could feel I was moving before I even opened my eyes. It was the gentle, swaying cadence of a car on the highway. Instead of coming awake slowly like I preferred I bolted upright in a panic. Kimber was driving and she didn’t look away from the road. “Are you okay?” I asked her. “No.” “I was…“ I was starting to remember what had happened on the mountain. “I’m- I’m sorry.” Kimber didn’t respond. “Did I walk to the car?” I was sure I knew the answer, but hoped I was wrong. “No. You were dragged to the car.” It was actually impressive that she could drag a full grown man through 200 yards of snow. I was constantly underestimating Kimber. “Look…” I rubbed my face and realized my hands were like ice. I laid them over the heaters on the dashboard. “I mean, the good news is that Borrasca is gone and no one is suffering anymore.” “No one?” She yelled. “Me. Me, Sam, I’m suffering!” Her voice was scratchy; it was obvious she had been crying, and judging by the current time, prob...

BORRASCA - Bagian 5 - Chapter 19 (English)

“Good afternoon, Mr. Walker. I’m sorry to wake you but the detectives have been asking to interview you since yesterday. I’m afraid they’re very insistent.” I tried to focus on the woman standing next to me. Everything was very…white. “Where am I?” “Drisking Regional. I’m Dr. Clava. And since you’re going to be speaking to two of the rudest men I’ve ever met I’m going to up your morphine a smidge.” I blinked a few times against the bright lights that stung my eyes. “No. No, no morphine please. Take me off it.” “Are you sure? You’ll be in a bit of pain if I do that.” She said as she walked over to the IV drip. “Yeah, turn it off. Where’s Kimber? How is she doing? Also, how am I not dead?” “I’m not Kimber’s doctor so I’m not sure who you’re talking about. As for your survival, you owe that to a rather skilled surgeon on staff here.” I could already pain radiating from my chest below my heart. “Is there any way you could make it any darker in here?” “Absolutely,” she repli...