Skip to main content

Bubble Bath


Jennifer sedang duduk di depan meja di kamar tidurnya untuk menyelesaikan PR. Ia besok akan ujian sehingga butuh belajar. Saat ia mencari salah satu buku sekolah, ia mendapat pesan di telepon genggamnya.

Ia tidak mengenali nomor yang tertera di layar, tetapi pesan itu berbunyi: "Berendamlah di bath up dan pergilah tidur. Ibu."

Ia mungkin tidak memiliki pulsa dan mengirim pesan dari HP orang lain, pikir Jennifer.

Jennifer sudah berencana berendam di bath up. Ia segera melepas pakaiannya, mengambil handuk bersih, kemudian berjalan masuk ke kamar mandi. Ia berhenti karena terkejut. Bath up telah terisi sampai meluap. Hmm... Aneh, pikirnya. Aku menebak Ibu mengisinya duluan.

Jennifer mengangkat bahunya. Ia menjatuhkan handuk dan masuk ke dalam bak mandi. Seluruh tubuhnya terendam sebelum ia menyadari sensasi terbakar di sekujur kulitnya. Dalam beberapa detik rasa terbakar itu semakin memburuk sampai ia menangis penuh penderitaan.

Jennifer melompat dari bath up, tetapi sudah terlambat. Ia melihat ketakutan pada air yang sudah berubah menjadi merah. Merah darah. Kulit tangan dan kakinya mulai mengelupas. Ia melihat pada kakinya, kulit di sana juga mengelupas. Kemudian, dada dan perutnya mulai ikut mengelupas. Seluruh kulit pada tubuhnya meleleh.

Potongan kulit Jennifer berjatuhan di lantai. Ia mulai berteriak kesakitan. Darahnya berubah menjadi genangan di sekitarnya di lantai kamar mandi. Dalam kesakitan yang luar biasa, Jennifer membuka pintu dan dengan terpincang-pincang keluar kamar mandi. Ia berjalan menuju kamar tidur. Setiap langkah adalah siksaan. Ia meninggalkan jejak darah sepanjang karpet. Ia mengambil telepon genggamnya untuk menelepon polisi, tapi di sana ada pesan baru yang sudah menunggunya.

Bunyinya: "Lain kali, mandilah dengan air."

Jennifer mendengar suara tawa di belakangnya. Ia berbalik dan mendapati seorang pria tinggi berbaju hitam sedang berdiri di depan pintu. Ia memegang pisau bergerigi di satu tangan dan botol kosong asam belerang di tangan yang lain.

Comments

Popular posts from this blog

The Expressionless

Pada bulan Juni 1972, Seorang Perempuan muncul dirumah sakit "Cedar Senai". Perempuan itu memakai gaun putih. Gaun putih itu menutupi darah yang ada di badan perempuan tersebut. Perempuan itu muncul di rumah sakit dan orang-orang sekitar memperhatikan keanehan perempuan tersebut. Sampai-sampai orang yang memperhatikannya dapat muntah dan merasa tidak enak badan. Yang pertama dipertanyakan adalah, apakah ia benar-benar seorang manusia? Tubuh dan Mukanya lebih mirip mendekati seperti mannequin (manekin atau sesosok patung menyerupai manusia, baik dari segi bentuk badan, kaki, tangan, kepala, bahkan wajahnya bisa diserupai dengan wajah manusia aslinya) tetapi memiliki ketangkasan dan fluiditas manusia normal. Wajahnya sesempurna manekin, tanpa alis dan dioleskan make-up. Ada anak kucing dijepit di rahangnya sehingga tidak ada gigi yang bisa dilihat. Darah masih menyemprot di atas gaunnya ke lantai. Dokter kemudian menarik kucing itu keluar dari mulutnya, kemudia melemparny...

Luka

Darah di dinding. Di pahaku, bajuku, lalu lantai, di dalam bak mandi, juga di wajahku, dan di rambutku. Di mana-mana. Menatap nanar kedua tangan yang berlumuran darah, aku lalu mengusap wajah menggunakan tanganku yang lengket dan berbau besi ini. Meski gemetaran, aku selalu merasa ini semua belum cukup. Kemudian aku meraba-raba lantai, mengambil cutter yang belum lama aku letakan. Mengangkat bagian bawah baju untuk kumasukkan ke dalam mulut sendiri. Lantas cutter itu mulai aku gunakan kembali. Menyayat. Menciptakan garis luka lebih panjang lagi di tangan kiri. Di bagian dalam lenganku. "E-emmh! Nggh!" Mengerang, merintih sendirian. Sobekan pada luka itu terasa amat memilukan. Perih. Dan tangan kiriku terjatuh lemas begitu saja. Padahal aku pernah mendapatkan luka yang lebih parah dari ini. Kenapa kali ini aku begitu lemah? Tak Cutter yang kupegang terlepas. Luka yang baru saja kubuat aku remas, membiarkan darahnya mengalir lebih banyak lagi. Karena semakin banyak darah ...

BORRASCA - Bagian 5 - Chapter 3 (English)

I didn’t remember dreaming but I knew I had. I woke up feeling like I’d run thirty miles; drenched in sweat and fighting to draw in air with raw, ragged breaths. I sat up on the couch and rubbed my face. What time was it? Why was I in the living room? Why did I feel a malicious black cloud looming over me like some sort of comic strip character? And then it all came back, crashing like waves over my head. Holy shit, Kimber was here. And she wanted something. I felt the fear shower me like ice cold rain as I recalled pieces of the night before. We were going back. Kimber’s bag was next to the door and she was sitting at the table reading one of Seth’s look-how-smart-I-am philosophy books. As I sat up I slid the evidence of my addiction under the couch with my foot, praying she hadn’t already seen it. “Morning, Sam,” Kimber smiled, without looking up from the book. “Why in the fuck are you so chipper. You remember where we’re going right?” “Yes.” She put the book down and looked ...