Skip to main content

Five



Five - Engkau sedang berkendara di tengah malam ketika kau melihat seseorang sedang mencari tumpangan. Kau memutuskan untuk berhenti. Pemuda itu menyalamimu dengan gugup dan meminta tumpangan ke kota terdekat.
Ia tampak mengalami masalah yang berat dan ia terlihat seperti belum tidur selama berhari-hari.

Engkau mencoba memulai percakapan dan ia menjawab dengan sopan bahwa ia sedang tidak ingin berbicara saat ini. Engkau akhirnya memutuskan untuk diam dan memusatkan perhatianmu pada urusan mengemudi.

Ketika memasuki kota, kau menghentikan mobilmu dan ia keluar

“Aku tak punya uang, namun ...” ia melepaskan kalung yang sebelumnya tak kau sadari tengah ia kenakan, “Aku nomor lima.

Ia menyerahkan kalung itu kepadamu. Kalung itu terlihat tua, seperti berasal dari masa kolonial dengan sebuah siluet terlihat di tengah. Kau tak bisa melihat dengan jelas sebenarnya siluet apakah itu,
sebab gambar itu telah tergerus sebagian. Engkau mendongak dan melihat pemuda itu berlari menjauhimu dengan tergesa-gesa. Kau mulai merasa aneh dan berpikir, seharusnya tadi engkau tak memberinya tumpangan.

Engkau melanjutkan hidupmu dan pada akhirnya melupakan peristiwa itu.

Five - Engkau mungkin tak ingat kapan semua ini dimulai, namun hal-hal aneh mulai terjadi. Kau kehilangan barang-barangmu dan menemukannya di tempat-tempat dimana kau ingat tak pernah meletakkannya di sana. Kau mulai melihat seorang gadis aneh bertudung merah yang belum pernah kau lihat sebelumnya.

Ia menatapmu terus-menerus ketika kau naik bus pada pagi hari. Rasa takut mulai menenuhi hatimu, namun kau tak pernah tahu apa sebabnya. Kau menemukan sebuah noda hitam di atas dinding dapurmu. Teman-temanmu mulai terlihat lebih pendiam bila berada di sekitarmu.

Tidurmu sering terganggu. Engkau sering terbangun di tengah malam dan tanpa alasan yang jelas, merasa takut akan sesuatu. Burung-burung gagak mulai berkumpul di sekitar rumahmu, tempat kerjamu, bahkan engkau melihat mereka dimana-mana.

Mereka tidak berkaok maupun terbang mengelilingimu. Mereka hanya diam, mengawasimu. Kau mulai menemukan rambut hitam yang panjang di lubang pembuangan kamar mandimu. Kau tinggal sendiri dan rambutmu selalu kau potong pendek.

Suatu hari ketika kamu pulang, kamu menemukan cermin di rumahmu telah retak. Cermin itu masih bergantung di dinding dan tak mungkin pecah begitu saja saat kau sedang tak ada di rumah. Rumahmu mulai berbau aneh, namun kau tak bisa menebak, bau apa itu. Ibumu menelepon dan bertanya apakah kau baik-baik saja.

Engkau ingin memberitahukannya mengenai kejadian-kejadian aneh yang menimpamu, namun kau mengurungkannya. Kau takut akan terdengar seperti orang aneh. Maka kaupun menutup telepon itu tanpa menceritakan yang sebenarnya. Kau menatap keluar jendela, dan tanpa kau sadari, hari sudah menjadi gelap, sangat cepat.

Five - Dapurmu mulai berbau kurang menyenangkan dan kau menyadari bahwa noda hitam di atas dapurmu sudah semakin membesar. Kau mendengar suara, seperti bisikan yang sangat pelan. Kau mengabaikannya dan berusaha membersihkan noda itu sebelum semakin meluas nantinya.
Kau mencari di buku telepon, alamat perusahaan yang bisa membersihkan noda itu.

Kalung yang berada di lehermu mulai gatal, kalung yang diberikan penumpang misterius itu. Kau melepaskannya dan meletakkannya di meja. Namun kemudian kau menyadari bahwa kalung itu tiba-tiba kembali terlingkar di lehermu.
Kau mulai berpikir bahwa ini semua hanya imajinasimu saja dan kau berusaha melupakannya. Rambut-rambut hitam panjang kembali tersapu air ke lubang pembuangan, bahkan hampir menyumbatnya.

Noda di dapur itu seakan tumbuh dan bau di dapurmu seakan merusak semua aroma makanan yang kamu masak. Namun kau selalu saja lupa memanggil orang untuk membersihkannya. Karena tak bisa lagi menggunakan dapurmu. Kau mulai menyimpan makanan di kamar tidurmu. Dan tiap kali melewati dapur, kau mendengar suara bisikan yang sangat pelan.

Kau memutuskan keluar rumah dan berjalan-jalan di sekitar lingkungan tempat tinggalmu. Semua orang yang melewatimu bertingkah aneh. Kau merasa melihat gadis bertudung merah itu lagi. Selain burung-burung gagak itu, kau tak melihat ada jenis-jenis burung yang lain. Sebuah mobil hampir menyerempetmu dan akhirnya menabrak pohon.

Kau segera menghampirinya untuk memastikan pengendaranya baik-baik saja. Namun begitu kau melongok ke dalam, tak ada siapapun di sana. Mobil itu kosong. Kau kemudian menyadari, mobil itu sangat mirip dengan mobilmu. Modelnya sama, warnanya sama, bahkan ada noda yang sama di kursi belakangnya, noda yang tak pernah bisa kau bersihkan dari dalam mobilmu. Burung-burung gagak itu kini mulai mendekatimu dan keheningan mereka seakan mengejekmu ketika kau berusaha mengusir mereka pergi.

Kau tak melihat siapapun lagi. Sudah berminggu-minggu sejak kau terakhir menjawab telepon. Deringnya terdengar semakin jarang dan jarang. Kamarmu mulai berbau busuk. Suara bisikan itu menjadi semakin jelas. Kau terbangun dengan luka-luka aneh di sekujur tubuhmu.

Luka-luka itu terlihat seperti gigitan manusia. Kau sudah tak mampu lagi membedakan mana yang realita dan mana yang khayalan. Kau tak pernah pergi ke dapur. Baunya kini sudah memenuhi rumahmu. Kau menemukan rambut hitam dimana-mana. Kau tak ingin meninggalkan rumahmu. Mungkin kau sudah terbiasa dengan semua ini.

Five - Kau terbangun dari tidurmu karena mendengar suara-suara. Bisikan-bisikan itu mulai terdengar seperti mengucapkan kata, bahkan kalimat pendek. Mereka membicarakan tentangmu. Hari sangat gelap. Kau tak berani membuka matamu. Kau masih bisa mencium bau busuk di dalam kamarmu.

Terdengar suara seperti perabotan berat diseret di atas lantai. Kau hanya berbaring di sana, dengan mata terpejam erat. Sejam berlalu. Dua jam. Tiga jam. Tak ada apapun yang terjadi.

Kau tidak bisa berpikir dengan jernih lagi karena kurang tidur. Namun akhirnya kau mendapatkan ide. Ya. Tentu saja! Kau mulai bangun, mengenakan sepatumu, dan berkeliling kota. Kamu berjalan di samping jalan raya. Kau hendak menumpang.

Sebuah mobil berhenti, namun sang pengendara tampak merasa tak nyaman melihatmu. Namun untuk alasan yang ia sendiri tak tahu, ia akhirnya membiarkanmu naik. Ia menanyakan namamu. Ketika mobil mulai berjalan, kau berusaha menahan tawamu dan menjawab.
“Aku nomor enam.”

Comments

Popular posts from this blog

The Expressionless

Pada bulan Juni 1972, Seorang Perempuan muncul dirumah sakit "Cedar Senai". Perempuan itu memakai gaun putih. Gaun putih itu menutupi darah yang ada di badan perempuan tersebut. Perempuan itu muncul di rumah sakit dan orang-orang sekitar memperhatikan keanehan perempuan tersebut. Sampai-sampai orang yang memperhatikannya dapat muntah dan merasa tidak enak badan. Yang pertama dipertanyakan adalah, apakah ia benar-benar seorang manusia? Tubuh dan Mukanya lebih mirip mendekati seperti mannequin (manekin atau sesosok patung menyerupai manusia, baik dari segi bentuk badan, kaki, tangan, kepala, bahkan wajahnya bisa diserupai dengan wajah manusia aslinya) tetapi memiliki ketangkasan dan fluiditas manusia normal. Wajahnya sesempurna manekin, tanpa alis dan dioleskan make-up. Ada anak kucing dijepit di rahangnya sehingga tidak ada gigi yang bisa dilihat. Darah masih menyemprot di atas gaunnya ke lantai. Dokter kemudian menarik kucing itu keluar dari mulutnya, kemudia melemparny...

Luka

Darah di dinding. Di pahaku, bajuku, lalu lantai, di dalam bak mandi, juga di wajahku, dan di rambutku. Di mana-mana. Menatap nanar kedua tangan yang berlumuran darah, aku lalu mengusap wajah menggunakan tanganku yang lengket dan berbau besi ini. Meski gemetaran, aku selalu merasa ini semua belum cukup. Kemudian aku meraba-raba lantai, mengambil cutter yang belum lama aku letakan. Mengangkat bagian bawah baju untuk kumasukkan ke dalam mulut sendiri. Lantas cutter itu mulai aku gunakan kembali. Menyayat. Menciptakan garis luka lebih panjang lagi di tangan kiri. Di bagian dalam lenganku. "E-emmh! Nggh!" Mengerang, merintih sendirian. Sobekan pada luka itu terasa amat memilukan. Perih. Dan tangan kiriku terjatuh lemas begitu saja. Padahal aku pernah mendapatkan luka yang lebih parah dari ini. Kenapa kali ini aku begitu lemah? Tak Cutter yang kupegang terlepas. Luka yang baru saja kubuat aku remas, membiarkan darahnya mengalir lebih banyak lagi. Karena semakin banyak darah ...

Kuchisake-Onna

Kuchisake-Onna Kuchisake-Onna adalah wanita bermulut robek yang menyusuri jalan-jalan di Jepang, ia mengenakan masker bedah dan mengincar anak-anak. Apabila kau melintasi jalannya, ia akan memberhentikanmu dan mengajukanmu sebuah pertanyaan. Jika kau memberikan jawaban yang salah, maka kau harus menanggung konsekuensi yang mengerikan. Suatu hari, kamu berjalan menuju ke rumah sepulang sekolah dan arah jalan membawamu melintasi jalan kota yang sepi. Tiba-tiba, kamu mendengar suara samar-samar yang datang bersama bayangan. Kamu melirik ke arah bayangan tersebut dan tampak seorang wanita cantik berdiri di sana. Ia memiliki rambut yang hitam dan panjang dan mengenakan mantel berwarna krem. Sebuah masker bedah menutupi bagian bawah (setengah) dari wajahnya. Di Jepang, mengenakan masker bedah biasanya digunakan jika sedang musim flu untuk mencegah penyebaran kuman. Ia melangkah keluar dari bayangan gelap dan menghalangi jalanmu. “Apakah aku cantik?” Tanyanya. Sebelum kamu menjawab, ia m...