Skip to main content

Hide and Seek - Petak Umpet


Ibu mengatakan kita akan memainkan sebuah game. Sebuah permainan petak umpet, dan Ayah akan ikut dalam permainan itu. Ibu mengatakan kepada aku untuk menemukan tempat yang benar-benar baik untuk bersembunyi dan jangan mengeluarkan suara sedikitpun. Dia mengatakan bahwa ketika Ayah menemukanku, maka aku harus kembali ketempat Ayah menghitung, dan lari secepat yang aku bisa. Aku benar-benar mahir dalam permainan petak ini, dia pasti tidak akan menemukanku.

Ayah mulai menghitung. Akupun segera bersembunyi ke dalam lemari pakaian orangtuaku. Tapi ada yang aneh dengan lemari ini. Isinya agak kosong, padahal biasanya selalu penuh. Kalau kupikir-pikir lagi, koper yang biasanya ada di bagian atas lemari ini juga tidak ada. Sepertinya tadi kulihat koper itu ada di dekat pintu depan. "Mereka pasti tadi sedang merapikan isi lemari ini" pikirku dalam hati.

Lama kutunggu Ayah menemukanku, tapi dia tidak kunjung datang. Aku mulai merasa lapar dan sesak di dalam lemari itu. Akupun memutuskan untuk menyerah dan keluar dari lemari itu. Saat aku kembali ke tempat Ayah menghitun,g dia tidak ada di sana. "Ayaaah..." aku berteriak memanggilnya. Tidak ada jawaban.

Ayah dan Ibu pasti bersembunyi. Mereka memang suka iseng.

Comments

Popular posts from this blog

BORRASCA - Bagian 5 - Chapter 3 (English)

I didn’t remember dreaming but I knew I had. I woke up feeling like I’d run thirty miles; drenched in sweat and fighting to draw in air with raw, ragged breaths. I sat up on the couch and rubbed my face. What time was it? Why was I in the living room? Why did I feel a malicious black cloud looming over me like some sort of comic strip character? And then it all came back, crashing like waves over my head. Holy shit, Kimber was here. And she wanted something. I felt the fear shower me like ice cold rain as I recalled pieces of the night before. We were going back. Kimber’s bag was next to the door and she was sitting at the table reading one of Seth’s look-how-smart-I-am philosophy books. As I sat up I slid the evidence of my addiction under the couch with my foot, praying she hadn’t already seen it. “Morning, Sam,” Kimber smiled, without looking up from the book. “Why in the fuck are you so chipper. You remember where we’re going right?” “Yes.” She put the book down and looked ...

The Expressionless

Pada bulan Juni 1972, Seorang Perempuan muncul dirumah sakit "Cedar Senai". Perempuan itu memakai gaun putih. Gaun putih itu menutupi darah yang ada di badan perempuan tersebut. Perempuan itu muncul di rumah sakit dan orang-orang sekitar memperhatikan keanehan perempuan tersebut. Sampai-sampai orang yang memperhatikannya dapat muntah dan merasa tidak enak badan. Yang pertama dipertanyakan adalah, apakah ia benar-benar seorang manusia? Tubuh dan Mukanya lebih mirip mendekati seperti mannequin (manekin atau sesosok patung menyerupai manusia, baik dari segi bentuk badan, kaki, tangan, kepala, bahkan wajahnya bisa diserupai dengan wajah manusia aslinya) tetapi memiliki ketangkasan dan fluiditas manusia normal. Wajahnya sesempurna manekin, tanpa alis dan dioleskan make-up. Ada anak kucing dijepit di rahangnya sehingga tidak ada gigi yang bisa dilihat. Darah masih menyemprot di atas gaunnya ke lantai. Dokter kemudian menarik kucing itu keluar dari mulutnya, kemudia melemparny...

BORRASCA - Bagian 5 - Chapter 7 (English)

I could feel I was moving before I even opened my eyes. It was the gentle, swaying cadence of a car on the highway. Instead of coming awake slowly like I preferred I bolted upright in a panic. Kimber was driving and she didn’t look away from the road. “Are you okay?” I asked her. “No.” “I was…“ I was starting to remember what had happened on the mountain. “I’m- I’m sorry.” Kimber didn’t respond. “Did I walk to the car?” I was sure I knew the answer, but hoped I was wrong. “No. You were dragged to the car.” It was actually impressive that she could drag a full grown man through 200 yards of snow. I was constantly underestimating Kimber. “Look…” I rubbed my face and realized my hands were like ice. I laid them over the heaters on the dashboard. “I mean, the good news is that Borrasca is gone and no one is suffering anymore.” “No one?” She yelled. “Me. Me, Sam, I’m suffering!” Her voice was scratchy; it was obvious she had been crying, and judging by the current time, prob...