Skip to main content

I Begged You

"Kumohon, aku benar-benar memohon kepadamu," kataku, tapi algojo hanya mendesah dan menatapku dengan sangat sedih ketika dia menusukkan jarum infus ke lenganku.

pendeta duduk di sampingku. "Setelah ia memencet tombolnya, obat akan diberikan secara berurutan. Kau akan tidak sadar di sekitar tiga puluh detik pertama, dan kemudian kematian segera setelah itu," dia menjelaskan, meskipun aku telah mendengar kata-kata itu sebelumnya. "Apakah kau punya kata-kata terakhir?"

"Hanya, sekali lagi, aku mohon padamu untuk tidak melakukan hal ini," kataku.

pendeta mengangguk sedih, sedih bahwa aku tidak menghadapi algojo dengan hati nurani yang bersih.

Meskipun aku belum pernah membunuh orang. Sudah seperti ini sepanjang hidupku. Aku tidak tahu mengapa, tapi setiap kali aku tidak sengaja menyakiti diriku sendiri, orang lain di dekatku akan mendapatkan luka. Aku pernah melukai tanganku dengan kertas di kelas yang menyebabkan tiga orang di sekitarku mengalami pendarahan dari jari-jari mereka. Di SMA, aku mengalami kecelakaan mobil, dan meskipun sisi mobil bagianku yang ditabrak, pacarku yang mengalami patah kaki.

Aku selalu berhati-hati. Aku mengurus diriku sendiri, mencoba untuk menjaga kesehatanku sebaik mungkin. Tapi ketika aku dirampok oleh tiga orang itu dan dia menembakku di wajah, wajah mereka yang meledak, bukan milikku. Dan ketika polisi datang, mereka menemukanku berlutut di samping tubuh mereka, mencoba untuk mencari tahu apa yang harus dilakukan.

Sekitar tiga puluh detik setelah eksekusi dimulai, aku melihat kedua algojo dan pendeta jatuh ke lantai dengan suara berdebum keras. "aku mohon," aku mengulanginya dengan sedih.


Comments

Popular posts from this blog

The Expressionless

Pada bulan Juni 1972, Seorang Perempuan muncul dirumah sakit "Cedar Senai". Perempuan itu memakai gaun putih. Gaun putih itu menutupi darah yang ada di badan perempuan tersebut. Perempuan itu muncul di rumah sakit dan orang-orang sekitar memperhatikan keanehan perempuan tersebut. Sampai-sampai orang yang memperhatikannya dapat muntah dan merasa tidak enak badan. Yang pertama dipertanyakan adalah, apakah ia benar-benar seorang manusia? Tubuh dan Mukanya lebih mirip mendekati seperti mannequin (manekin atau sesosok patung menyerupai manusia, baik dari segi bentuk badan, kaki, tangan, kepala, bahkan wajahnya bisa diserupai dengan wajah manusia aslinya) tetapi memiliki ketangkasan dan fluiditas manusia normal. Wajahnya sesempurna manekin, tanpa alis dan dioleskan make-up. Ada anak kucing dijepit di rahangnya sehingga tidak ada gigi yang bisa dilihat. Darah masih menyemprot di atas gaunnya ke lantai. Dokter kemudian menarik kucing itu keluar dari mulutnya, kemudia melemparny...

BORRASCA - Bagian 5 - Chapter 7 (English)

I could feel I was moving before I even opened my eyes. It was the gentle, swaying cadence of a car on the highway. Instead of coming awake slowly like I preferred I bolted upright in a panic. Kimber was driving and she didn’t look away from the road. “Are you okay?” I asked her. “No.” “I was…“ I was starting to remember what had happened on the mountain. “I’m- I’m sorry.” Kimber didn’t respond. “Did I walk to the car?” I was sure I knew the answer, but hoped I was wrong. “No. You were dragged to the car.” It was actually impressive that she could drag a full grown man through 200 yards of snow. I was constantly underestimating Kimber. “Look…” I rubbed my face and realized my hands were like ice. I laid them over the heaters on the dashboard. “I mean, the good news is that Borrasca is gone and no one is suffering anymore.” “No one?” She yelled. “Me. Me, Sam, I’m suffering!” Her voice was scratchy; it was obvious she had been crying, and judging by the current time, prob...

BORRASCA - Bagian 5 - Chapter 4 (English)

We spent the rest of the drive avoiding the topic of Drisking. We talked about people we knew, movies we’d seen; hell, we even made a few jokes that didn’t fall totally flat. It reminded me of those days when we would sit in my car in the Drisking High parking lot, listening to music and getting stoned. It made me miss Kyle…and weed. I’d given it up for the harder stuff years ago. Or to put it more eloquently: if pot was a gateway drug, I’d left it at the gate. The closer we got to Drisking, the quieter the car became and by the time we hit the Missouri border, we were in complete silence. It had started to snow and Kimber was completely focused on the drive. I stared out the window until the dread of familiar things passing by made me look away. We were almost there. Kimber pulled into the Prince Ridge within the hour and got out to check us in. I stayed in the car, eyeing the other vehicles in the parking lot. Nothing I recognized, but seeing as how it had been almost a decade si...