Skip to main content

Story



Story - Namaku kiki, aku seorang gadis berusia 20 tahun, aku kini duduk di bangku perkuliahan.

Sejak tahun 2014 aku mulai menyukai cerita-cerita seram, sadis bahkan yang menggelikan tentang para psikopat atau hal yang berbau pembunuhan.

Ini semua dimulai ketika aku menyukai salah satu halaman yang sering memposting cerita atau gambar-gambar seram, aku mulai sering mengikuti halaman tersebut. Entah mengapa cerita-cerita yang para admin posting di halaman tersebut menjadi hiburan untukku, bahkan aku sering merasa kesal ketika mereka tidak memposting dalam waktu yang cukup lama.

Semenjak saat itu juga aku mulai tertarik membuat cerita seram yang membuat semua orang tertarik membacanya, lalu aku mulai menyapa setiap admin pengelola halaman tersebut, aku bermaksud memulai pendekatan emosional dengan para admin agar mereka membagi ilmu mereka dalam membuat cerita.

waktu sudah berlalu sangat lama, aku mulai mempunyai kedekatan emosional dengan salah satu admin, aku kemudian mengajaknya bertemu dan aku memberikan alamatku kepadanya, karna selama ini ia bersikap sangat baik dan peduli dengan semua rasa keingintahuanku maka aku tak ragu untuk bertemu dengannya.

Sebut saja dia Mike, setelah melakukan perjanjian untuk bertemu dan berbagi pengetahuan, ia akhirnya datang ke rumah kosku, ia mengenakan kaos biru polos dengan celana jean hitam.

"Hai apa kau kiki? ini aku Mike" ucapnya tanpa membuang waktu "kau akhirnya datang, mari silahkan masuk" Aku dan Mike mulai berbagi cerita, aku menanyakan segala hal yang menurutku perlu kutanyakan untuk menunjang suksesnya cerita seramku.

Ia kemudian bertanya "dimana teman kosmu yang lainnya?" "Di kamar sebelah, disana ada Maya dan Lia" jawabku.

Ia memintaku menunjukan kamar tersebut. Aku menuntunnya menuju kamar teman-temanku.

tok tok tok

kami mengetuk pintu, teman-temanku terlihat bingung atas kehadiran Mike yang tersenyum kepada mereka.

Belum sempat aku menjelaskan kepada Maya dan Lia, Mike langsung mengambil sesuatu dari balik kaos birunya, ia kemudian berjalan mendekati Maya.

"Kiki perhatikan, ini pelajaran pertamamu".

Zraasshhhhh...

Story - Mike mengiris leher Maya dengan sangat cepat, Lia berteriak histeris melihat Maya yang sudah jatuh terkapar dengan semburan darah yang terus mengucur.

Dia mencoba lari keluar namun tangan cekatan Mike sudah menggapai rambut panjang Lia, Lia merintih memohon untuk dilepaskan, tapi kemudian Mike mengiris perut Lia dan membiarkan isi perutnya menyembul keluar.

Mike menghampiriku perlahan setelah Lia tak bernyawa lagi, dan berkata"Kau tidak lupa membawa pensil dan kertas kan? jadi catatlah cepat sebelum kau melupakan inspirasi cerita yang kuberikan.

Comments

Popular posts from this blog

The Expressionless

Pada bulan Juni 1972, Seorang Perempuan muncul dirumah sakit "Cedar Senai". Perempuan itu memakai gaun putih. Gaun putih itu menutupi darah yang ada di badan perempuan tersebut. Perempuan itu muncul di rumah sakit dan orang-orang sekitar memperhatikan keanehan perempuan tersebut. Sampai-sampai orang yang memperhatikannya dapat muntah dan merasa tidak enak badan. Yang pertama dipertanyakan adalah, apakah ia benar-benar seorang manusia? Tubuh dan Mukanya lebih mirip mendekati seperti mannequin (manekin atau sesosok patung menyerupai manusia, baik dari segi bentuk badan, kaki, tangan, kepala, bahkan wajahnya bisa diserupai dengan wajah manusia aslinya) tetapi memiliki ketangkasan dan fluiditas manusia normal. Wajahnya sesempurna manekin, tanpa alis dan dioleskan make-up. Ada anak kucing dijepit di rahangnya sehingga tidak ada gigi yang bisa dilihat. Darah masih menyemprot di atas gaunnya ke lantai. Dokter kemudian menarik kucing itu keluar dari mulutnya, kemudia melemparny...

BORRASCA - Bagian 5 - Chapter 7 (English)

I could feel I was moving before I even opened my eyes. It was the gentle, swaying cadence of a car on the highway. Instead of coming awake slowly like I preferred I bolted upright in a panic. Kimber was driving and she didn’t look away from the road. “Are you okay?” I asked her. “No.” “I was…“ I was starting to remember what had happened on the mountain. “I’m- I’m sorry.” Kimber didn’t respond. “Did I walk to the car?” I was sure I knew the answer, but hoped I was wrong. “No. You were dragged to the car.” It was actually impressive that she could drag a full grown man through 200 yards of snow. I was constantly underestimating Kimber. “Look…” I rubbed my face and realized my hands were like ice. I laid them over the heaters on the dashboard. “I mean, the good news is that Borrasca is gone and no one is suffering anymore.” “No one?” She yelled. “Me. Me, Sam, I’m suffering!” Her voice was scratchy; it was obvious she had been crying, and judging by the current time, prob...

BORRASCA - Bagian 5 - Chapter 3 (English)

I didn’t remember dreaming but I knew I had. I woke up feeling like I’d run thirty miles; drenched in sweat and fighting to draw in air with raw, ragged breaths. I sat up on the couch and rubbed my face. What time was it? Why was I in the living room? Why did I feel a malicious black cloud looming over me like some sort of comic strip character? And then it all came back, crashing like waves over my head. Holy shit, Kimber was here. And she wanted something. I felt the fear shower me like ice cold rain as I recalled pieces of the night before. We were going back. Kimber’s bag was next to the door and she was sitting at the table reading one of Seth’s look-how-smart-I-am philosophy books. As I sat up I slid the evidence of my addiction under the couch with my foot, praying she hadn’t already seen it. “Morning, Sam,” Kimber smiled, without looking up from the book. “Why in the fuck are you so chipper. You remember where we’re going right?” “Yes.” She put the book down and looked ...