Skip to main content

I REGRET EVER WORKING IN THE SOUTH POLE - Bagian 3 (FINAL)


I REGRET EVER WORKING IN THE SOUTH POLE - Keesokan harinya, listrik menyala, namun cahaya lampunya masih pudar. Mendadak, kami mendengar suara musik dari kamar mandi. Penasaran, kami berdiri dan berjalan bergerombol, lantas melongok ke dalam kamar mandi. Aku mendengar lagu itu, "Jesus Take the Wheel," berkumandang berulang-ulang. Di dalam kamar mandi, kami melihat si ahli fisika. Dia telanjang bulat, duduk membelakangi kami di lantai ubin, sebuah iPod terletak di depannya. Di bawah tubuhnya, kami melihat genangan darah, mengalir menuju lubang pembuangan.

Perlahan-lahan, dia menoleh ke arah kami. Dia menatapku, lalu mengangkat jarinya ke mulut, tersenyum dan mendesis, "ssstt..."

Dengan tangan lainnya, dia mengangkat alat kelaminnya yang telah dipotong. Matanya tertutup, namun senyumnya lebih mirip seringai. Dia berbisik, "aku suka lagu ini sekarang."

"Ya, Tuhan," gumam si dokter. Dia perlahan menghampiri si ahli fisika, berusaha membuatnya tetap tenang. "Tak apa-apa, nak, aku akan menolongmu."

Si ahli fisika cekikikan, matanya masih tertutup dan mulutnya masih menyeringai. Saat si dokter semakin dekat, si ahli fisika mendadak menjerit dan melompat. Dia menabrak si dokter sampai terjatuh, lantas menindihnya, dan menggigit lehernya kuat-kuat, tepat di nadi jugularnya. Darah muncrat membahasi giginya dan leher si dokter. Sementara si dokter sekarat sambil tercekik darahnya sendiri, si ahli fisika kini berdiri dan menatap kami dengan kejam, nampaknya berniat menyerang kami. Saat dia siap menerjang, mendadak kami mendengar suara letusan keras. Aku terjatuh lantaran telingaku mendadak berdenging menyakitkan. Ketika dengingan itu berhenti, aku melihat si ahli fisika terbaring tewas di kamar mandi. Di keningnya ada luka tembak bundar yang menembus sampai ke belakang tengkoraknya. Salah satu anggota tim maintenance memegang pistol yang masih berasap.

I REGRET EVER WORKING IN THE SOUTH POLE - Sekarang kami tinggal berempat. Aku, si ahli biologi, dan dua orang maintenance. Yang lainnya sudah tewas, atau hilang. Walaupun listriknya sudah menyala, tetapi masih belum ada sinyal radio dan Wifi. Kami panik dan gelisah, sampai akhirnya salah satu orang maintenance berkata, "tidak ada cara lain. Aku harus memperbaiki piringan satelit untuk mendapatkan sinyal. Itu satu-satunya harapan kita."

Aku menatapnya, sadar dia benar. Di luar sana masih dingin dan gelap karena badai masih menderu.

"Aku akan pergi," ujar si orang maintenance.

"Baiklah, aku ikut denganmu," temannya berkata.

Setelah mereka pergi, tinggal aku dan si ahli biologi, berdua. Kami menatap kepergian kedua orang maintenance itu, yang terbungkus jaket tebal, keluar menembus badai. Kami menunggu selama berjam-jam, menanti datangnya sinyal radio dan wifi.

Dan menunggu.

Dan masih menunggu.

Lama kemudian, walaupun aku dan si ahli biologi tak saling bicara, kami akhirnya menyadari satu hal: kamilah yang tersisa dari tim kami.

Si ahli biologi akhirnya menangis di pangkuanku, sampai dia tertidur kelelahan. Aku sendiri sangat lelah, namun sebelum menutup mata, aku merasa mendengar suara cekikikan, seperti suara anak kecil.

I REGRET EVER WORKING IN THE SOUTH POLE - Aku tak ingat kapan aku terbangun, tapi kemudian aku menyadari kalau aku sendirian. Aku meneriakkan nama si ahli biologi. Aku membuka setiap kamar dan ruangan, sampai akhirnya aku menemukannya di ruang percobaan.

Si ahli biologi duduk bersandar di belakang meja. Dia telah menulis sepucuk surat indah tentang "ingin melihat dunia luar sebelum mati." Di salah satu tangannya, ada jarum suntik kosong yang nampaknya telah dia gunakan untuk mengakhiri hidupnya. Kedua matanya terbuka dan menatap kosong. Aku perlahan mundur, meninggalkannya dalam damai.

Sekarang, kalau kau membaca surat ini, kau akan tahu bahwa mungkin ini saat-saat terakhir dimana aku bisa berpikir jernih. Aku berusaha menjelaskan padamu mengapa kami semua dibawa ke neraka beku ini, hanya untuk mati satu-persatu; aku berusaha menjelaskan semuanya sebelum aku menaruh pistol ini di mulutku dan menembakkannya.

Setelah melihat mayat si ahli biologi, aku kembali ke kantorku. Aku merasa lemah dan histeris di saat yang bersamaan. Ketika melihat cermin, aku melihat wajahku yang seputih hantu dan mataku yang seolah jadi hitam sepenuhnya. Ini membuatku meninju cermin itu sampai pecah berkeping-keping. Ketika kepalan tinjuku tergores, aku sedikit tersadar, dan saat itulah, aku melihat sehelai kertas di tengah-tengah pecahan kaca. Di kertas itu, tertempel sebuah foto.

Inilah tulisannya:

"Jika kau sempat membaca ini, kuharap semuanya belum terlambat bagimu. Tempat ini tidak seperti yang kau bayangkan. Earl, si pemilik proyek, bukan orang religius sinting yang kebanyakan uang; dia orang yang jauh lebih berbahaya. Kau mungkin sudah menemukan peti terkunci itu. Di dalamnya, ada beberapa benda kecil diletakkan untuk membuatmu takut. Mungkin ada pendeta di timmu yang akan segera menyebut bahwa peti itu 'jahat.' Itu semua sudah diatur. Dan debu hitam yang melayang dari dalam peti itu? Itu bukan debu dan bukan saripati iblis.

Pernahkah kau membayangkan kenapa kalian ditempatkan begitu jauh dari pangkalan lainnya?

Karena fasilitas kalian sebenarnya adalah TEMPAT PENGUJIAN SENJATA KIMIA.

I REGRET EVER WORKING IN THE SOUTH POLE - Kalian semua telah dipilih sebagai obyek penelitian senjata kimia oleh perusahaan swasta. Debu hitam itu adalah bahan kimia dengan komposisi tak terlacak, dengan serat patogen yang bisa menimbulkan psikosis dan halusinasi, dan dimaksudkan untuk mengincar para pejabat penting dan bahkan pemimpin dunia. Prinsipnya adalah membuat musuh membunuh diri mereka sendiri. Jika kau sempat menghirup debu hitam itu, sudah terlambat bagimu. Satu-satunya yang bisa kau lakukan adalah memastikan pesan ini dibaca seseorang.


Jangan percaya pada orang-orang maintenance dan si terapis pria. Mereka semua bekerja untuk Earl. Mereka akan menghilang tanpa jejak segera setelah Earl berkunjung ke tempatmu. Mereka telah mencatat rutinitasmu, sehingga walaupun badai salju berakhir dan kau bisa pergi, kau akan dikejar dan dibunuh.

Maafkan aku. Aku sudah kehilangan semua anggota timku. Aku berharap kau tak pernah datang.

Maafkan aku -- Dave."

I REGRET EVER WORKING IN THE SOUTH POLE - Foto yang tertempel di surat itu nampaknya adalah anggota tim sebelumnya. Ada seorang pria yang wajahnya dilingkari spidol merah, dengan tulisan "ini aku."

Dia adalah si pria berjaket jingga dengan wajah mirip tikus itu.

Comments

Popular posts from this blog

The Expressionless

Pada bulan Juni 1972, Seorang Perempuan muncul dirumah sakit "Cedar Senai". Perempuan itu memakai gaun putih. Gaun putih itu menutupi darah yang ada di badan perempuan tersebut. Perempuan itu muncul di rumah sakit dan orang-orang sekitar memperhatikan keanehan perempuan tersebut. Sampai-sampai orang yang memperhatikannya dapat muntah dan merasa tidak enak badan. Yang pertama dipertanyakan adalah, apakah ia benar-benar seorang manusia? Tubuh dan Mukanya lebih mirip mendekati seperti mannequin (manekin atau sesosok patung menyerupai manusia, baik dari segi bentuk badan, kaki, tangan, kepala, bahkan wajahnya bisa diserupai dengan wajah manusia aslinya) tetapi memiliki ketangkasan dan fluiditas manusia normal. Wajahnya sesempurna manekin, tanpa alis dan dioleskan make-up. Ada anak kucing dijepit di rahangnya sehingga tidak ada gigi yang bisa dilihat. Darah masih menyemprot di atas gaunnya ke lantai. Dokter kemudian menarik kucing itu keluar dari mulutnya, kemudia melemparny...

Luka

Darah di dinding. Di pahaku, bajuku, lalu lantai, di dalam bak mandi, juga di wajahku, dan di rambutku. Di mana-mana. Menatap nanar kedua tangan yang berlumuran darah, aku lalu mengusap wajah menggunakan tanganku yang lengket dan berbau besi ini. Meski gemetaran, aku selalu merasa ini semua belum cukup. Kemudian aku meraba-raba lantai, mengambil cutter yang belum lama aku letakan. Mengangkat bagian bawah baju untuk kumasukkan ke dalam mulut sendiri. Lantas cutter itu mulai aku gunakan kembali. Menyayat. Menciptakan garis luka lebih panjang lagi di tangan kiri. Di bagian dalam lenganku. "E-emmh! Nggh!" Mengerang, merintih sendirian. Sobekan pada luka itu terasa amat memilukan. Perih. Dan tangan kiriku terjatuh lemas begitu saja. Padahal aku pernah mendapatkan luka yang lebih parah dari ini. Kenapa kali ini aku begitu lemah? Tak Cutter yang kupegang terlepas. Luka yang baru saja kubuat aku remas, membiarkan darahnya mengalir lebih banyak lagi. Karena semakin banyak darah ...

BORRASCA - Bagian 5 - Chapter 3 (English)

I didn’t remember dreaming but I knew I had. I woke up feeling like I’d run thirty miles; drenched in sweat and fighting to draw in air with raw, ragged breaths. I sat up on the couch and rubbed my face. What time was it? Why was I in the living room? Why did I feel a malicious black cloud looming over me like some sort of comic strip character? And then it all came back, crashing like waves over my head. Holy shit, Kimber was here. And she wanted something. I felt the fear shower me like ice cold rain as I recalled pieces of the night before. We were going back. Kimber’s bag was next to the door and she was sitting at the table reading one of Seth’s look-how-smart-I-am philosophy books. As I sat up I slid the evidence of my addiction under the couch with my foot, praying she hadn’t already seen it. “Morning, Sam,” Kimber smiled, without looking up from the book. “Why in the fuck are you so chipper. You remember where we’re going right?” “Yes.” She put the book down and looked ...